Son Heung-min secara resmi mengumumkan kepergiannya dari Tottenham Hotspur dalam konferensi pers di Seoul pada Sabtu (1/8). Pemain berusia 32 tahun itu menyebut keputusan ini sebagai yang tersulit dalam kariernya, namun diperlukan untuk mencari tantangan baru. FOOTBALL JETS, akan membahas informasi menarik mengenai sepak bola hari ini, simak pembahasan ini.
“Tottenham telah membentuk saya dari pemuda 23 tahun yang belum mahir berbahasa Inggris menjadi sosok seperti sekarang. Meninggalkan klub ini sebagai kapten adalah momen yang membanggakan,” ujar Son. Ia bergabung dengan Spurs sejak 2015 dari Bayer Leverkusen dengan harga 22 juta pounds.
Klub dikabarkan memahami keinginan Son untuk pindah, meski kontraknya masih berlaku hingga 2026. Sumber ESPN menyebut LAFC sebagai salah satu calon tujuan berikutnya.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Momen Perpisahan di Tanah Kelahiran
Pelatih baru Tottenham, Thomas Frank, memastikan Son Heung-min akan menjadi starter sekaligus kapten dalam laga uji coba melawan Newcastle di Stadion Piala Dunia Seoul, Minggu (2/8). Pertandingan ini berpotensi menjadi penampilan terakhirnya bersama Spurs.
“Jika ini akhir dari perjalanan Sonny di Tottenham, tidak ada tempat yang lebih indah selain di depan fansnya sendiri,” kata Frank. Son juga berpeluang tampil di Piala Super UEFA kontra PSG pada 13 Agustus sebelum resmi hengkang.
Selama sembilan musim, Son mencetak 198 gol dan assist di Liga Premier serta menjadi pemain ketujuh yang mencapai 450 penampilan. Gelar Liga Europa musim lalu menjadi satu-satunya trofi yang ia raih bersama Spurs.
Baca Juga: Andre Onana, Simbol Kekacauan di Bawah Mistar Man United?
Pencarian Tantangan Baru
Son mengaku telah mencapai semua targetnya di Tottenham, termasuk mengangkat trofi Eropa. “Saya butuh lingkungan baru untuk mendorong batas kemampuan,” tegasnya. Kepindahannya menandai berakhirnya era penting bagi klub London Utara tersebut.
LAFC menjadi klub yang paling serius mendekatinya, tetapi Son belum memastikan tujuan selanjutnya. “Saya belum memiliki jawaban pasti,” ujarnya saat ditanya tentang masa depannya.
Tottenham kini harus mencari pemain yang mampu mengisi void left oleh Son, baik sebagai pemimpin tim maupun kontributor gol. Proses transisi ini menjadi ujian pertama bagi Thomas Frank sebagai manajer baru.
Warisan Son di Tottenham
Kepergian Son menutup babak penting bagi Spurs, di mana ia menjadi ikon multikultural klub. Rekor 450 penampilan dan 198 kontribusi gol di Premier League membuktikan konsistensinya sebagai salah satu pemain terbaik Asia di Eropa.
“Kami berutang banyak pada Sonny. Dedikasinya tak ternilai,” puji Frank. Fans Tottenham diharapkan memberikan penghormatan terbaik dalam laga perpisahannya di Seoul.
Meski meninggalkan Spurs, Son memastikan hubungannya dengan klub tetap baik. “Tottenham selamanya ada di hati saya,” tutupnya. Kini, perhatian beralih ke babak baru kariernya di luar Inggris. Manfaatkan juga waktu luang anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi mengenai berita sepak bola terbaru lainnya hanya dengan klik footballjetsofficialshop.com.