Tottenham Jadi Sorotan Politik Swedia Karena Label Spursy

Bagikan

Tottenham Hotspur kembali menjadi sorotan, kali ini bukan hanya karena performa di lapangan, tetapi juga karena dijadikan bahan sindiran di dunia politik internasional. Seorang politisi Swedia bahkan menggunakan istilah “Spursy” dalam pidato resmi parlemen untuk menggambarkan kondisi ekonomi negaranya yang dikhawatirkan kehilangan arah.

Tottenham Jadi Sorotan Politik Swedia Karena Label Spursy

Istilah “Spursy” selama ini identik dengan kegagalan memenuhi ekspektasi besar. Tottenham kerap dianggap memiliki semua modal untuk sukses, mulai dari fasilitas kelas dunia hingga dukungan finansial kuat, tetapi sering gagal meraih hasil maksimal. Musim ini, performa mereka di liga domestik kembali menurun drastis.

tebak skor hadiah pulsa 100k  

Situasi tersebut semakin menyakitkan karena terjadi tidak lama setelah klub mengakhiri puasa trofi selama 17 tahun dengan menjuarai Liga Europa pada 2025. Alih-alih membangun momentum, Spurs justru kembali terpuruk dan terancam terlibat dalam persaingan papan bawah klasemen.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Kritik Pedas dari Parlemen Swedia

Politikus Swedia, Mikael Damberg, secara terbuka menyebut Tottenham sebagai contoh bagaimana potensi besar bisa terbuang sia-sia. Dalam pidatonya, ia membandingkan situasi klub London Utara itu dengan kondisi ekonomi Swedia yang dinilai penuh peluang namun kurang dimaksimalkan.

Damberg menyoroti bahwa Tottenham memiliki stadion megah berkapasitas lebih dari 60 ribu penonton, basis suporter besar, serta sumber daya finansial kuat. Namun, menurutnya, keputusan yang keliru dan kurangnya stabilitas membuat klub tersebut kehilangan arah. Ia memperingatkan agar Swedia tidak menjadi “Spursy”.

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik. Jarang sekali klub sepak bola Inggris dijadikan metafora dalam debat ekonomi nasional negara lain. Namun hal itu menunjukkan betapa kuatnya citra Tottenham sebagai simbol inkonsistensi di mata sebagian pengamat.

Baca Juga: Sterling Dilarang Berlatih Bersama Rekan-rekan Barunya di Feyenoord

Investasi Besar Minim Hasil Maksimal

Tottenham Jadi Sorotan Politik Swedia Karena Label Spursy

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Tottenham telah berinvestasi besar-besaran. Pembangunan stadion modern menjadi kebanggaan klub dan simbol ambisi jangka panjang. Selain itu, dana transfer juga terus digelontorkan untuk memperkuat skuad.

Di bawah asuhan Ange Postecoglou, Spurs sempat merasakan manisnya gelar Eropa. Namun keberhasilan itu tidak mampu menjaga konsistensi tim di kompetisi domestik. Setelah performa memburuk, manajemen memutuskan berpisah dengan pelatih berikutnya, Thomas Frank.

Keputusan yang berubah-ubah ini memperkuat anggapan bahwa klub kurang memiliki arah jangka panjang. Mantan pelatih bahkan sempat menyatakan bahwa Tottenham belum sepenuhnya bertindak seperti klub besar, terutama dalam hal keberanian mengambil risiko untuk benar-benar bersaing di level tertinggi.

Tantangan Berat di Derby London Utara

Kini Spurs berada di bawah komando pelatih interim Igor Tudor hingga akhir musim. Tugasnya tidak mudah, karena ia harus segera mengangkat moral tim sekaligus memperbaiki posisi di klasemen.

Laga pertamanya langsung menghadirkan tekanan besar, yakni derby London Utara melawan rival abadi, Arsenal. Pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin, tetapi juga harga diri dan momentum kebangkitan. Tottenham kini berada di persimpangan jalan.

Apakah mereka mampu membalikkan keadaan dan menghapus label “Spursy”, atau justru semakin menguatkan stereotip tersebut? Jawabannya akan sangat bergantung pada stabilitas, keberanian mengambil keputusan, dan konsistensi performa di sisa musim ini. Selalu ikuti informasi terupdate dan terpercaya yang telah kami rangkum seputar sepak bola menarik lainnya hanya di footballjetsofficialshop.com.